Senin, 03 Oktober 2022
Selasa, 08 Juni 2021
Perjuangan dan kisah hidup Syekh Mohammad al Mbah Wali Gendon Kesesi (Lembakmi RTIK ‘20)
Jum'at, 7 Agustus 2020 pengurus Rayon Tarbiyah dan
Ilmu Keguruan Komisariat Ki Ageng Ganjur IAIN Pekalongan mengadakan kegiatan
ziarah religi di makam Syekh Mohammad Ashral (Mbah Wali Gendhon) Kesesi,
Pekalongan dan di makam Ki Ageng Cempaluk, Kesesi, Pekalongan. Kegiatan
tersebut diadakan oleh pengurus Rayon Tarbiyah dan Ilmu Keguruan dengan tujuan
untuk mengenang jasa dan perjuangan ulama Nusantara.
Untuk lebih memahami akan sejarah dari beliau maka kita juga perlu mengadakan kajian lebih lanjut mengenai perjuangan dan kisah hidup Syekh Mohammad (Mbah Wali Gendon) dan Ki Ageng Cempaluk. Berikut penjelasan singkatnya
Makam Syekh Mohammad Ashral al
Mbah Wali Gendhon Kesesi
Sekitar
seratus enam puluh enam tahun yang lalu pada sebuah pedukuhan terpencil jauh
dari keramaian kota, yakni di Dukuh Kauman, Desa Kesesi, Kecamatan Kesesi,
Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, lahirlah seorang bayi laki-laki ganteng
dengan kulit sawo matang dari seorang ayah bernama Tarab dan ibu nya Tarkumi.
Bayi yang lahir di malam hari tersebut diberi nama Mohammad Ashral tepatnya
terlahir di tahun 1847 M.
Ashral
lahir di lingkungan keluarga sederhana dan mandiri, hidup apa adanya serta
tidak mengenal dunia kemewahan. Bahkan setelah menginjak usia baligh , ia sudah
ikut menggembalakan hewan ternak piaraan orang lain, untuk mengisi kesibukannya
sebagai seorang anak seperti pada umumnya yang suka bermain dan bermain.
Di
mata teman sebayanya, Ashral kecil ini dikenal sebagai anak pendiam dan dalam
pergaulan ia selalu mengalah di segala hal, juga sifat sebagai seorang pemaaf
sudah ditunjukan semenjak ia masih kecil meskipun banyak teman bermain tidak
jarang yang menyakiti, bahkan tidak jarang pula yang menghinanya. Dalam diri
Ashral tidak terbesit sedikitpun muncul perasaan dendam. Seketika itu pun ia
senantiasa langsung memaafkan teman sepermainan
yang menghinanya walau tidak diminta.
Seiring
berjalannya waktu, kini Ashral telah menginjak usia remaja akan tetapi sifatnya
masih seperti Ashral kecil dulu yang pendiam dan pemaaf. Barangkali sudah
menjadi karakter dan perwatakannya dan pengaruh dari pada sebuah pergaulan
tidak mempan merubah kepribadiannya yang sudah meresap dalam tulang dan daging
bocah kecil ini.
Bahkan
tidak jarang Ashral memperlihatkan sebuah keanehan (keunikan, keajaiban) yang
tidak dimiliki oleh anak-anak seusianya. Yang lebih menonjol yaitu ia lebih
senang menjauh dari kehidupan yang bersifat keduniawiyah (kesenangan dunia
semata), seakan ia sudah tahu betul sejak kecil bahwa dunia dan seisinya hanya
cuma titipan-Nya, oleh karena itu ia lebih asyik mencari sesuatu yang lebih
hakiki.
Ia
lebih melihat ke sebuah esensi bukan sekedar eksistensinya saja. Atau
barangkali Ashral kecil sedang mencari sebuah mutiara hidup yang bersemayam
dalam dirinya sendiri.Inilah keunikan Ashral kecil selalu menjauh dan menjauh
dari sesuatu yang bersifat kediawian.
Dipandang
sudah dewasa oleh orang tuanya, maka pada suatu ketika kedua orang tua Ashral
memperkenalkan pada seorang perempuan untuk dijadikan sebagai pendamping hidup
Ashral. Sebab usia sebaya
Ashral di sebuah Pedukuhan Kauman Kesesi rata-rata sudah pada menikah usia
muda. Saat itu menikah di usia mudah bukan hal aneh atau menikah usia muda bisa
dianggap melanggar UU PPA seperti sekarang ini.
Usia sebelasan tahun di Dukuh Kauman sudah banyak yang
menikah, hal ini disebabkan oleh karena tradisi dari leluhur sebelumnya dan
turun temurun ke generasi berikutnya.
Tak lama kemudian sebuah perkawinan (ijab kobul) pun
dilaksanakan antara Ashral dengan wanita tersebut (tidak dijelaskan nama wanita
dan alamat). Namun, tiba-tiba semua terhenyak kaget melihat ulah Ashral.Yang
terjadi tidak seperti pada umumnya seorang lelaki setelah meminang seorang
perempuan.
Tatkala setelah ijab kobul (akad nikah) dilaksanakan pada
hari itu pulalah Ashral langsung pulang kembali ke rumah orang tua bersama
teman pengiring (pengantar pengantin) dan tidak mau kembali lagi ke tempat
istrinya yang baru saja dinikahi.
Kedua orang tua Ashral pun kaget dan dibuat bingung
olehnya. Beliau berusaha mencari tahu apa sebab musabab anaknya pulang secepat
itu. Selaksa pertanyaan pun mengelayut dibenak kedua orang tua Ashral.
Akhirnya, teka teki itu pun terjawab seketika.
“Nangapa kowe balik ora gelem mbojo, lup?”
“Aku pingin mondok bae, Mak. Aku kepingin aring pesantren
sinau agama men pinter,” jawabnya singkat dan menthes.
Sebab Mohammad Ashral pulang seketika dikarenakan ia belum ingin berumah tangga. Pada saat itu yang diinginkan Ashral muda bukan mencari pendamping hidup atau seorang istri, akan tetapi ia terpanggil dari telenging ati (jiwa yang dalam) hanya ingin menimba pengetahuan ilmu Agama Islam yang lebih mendalam dengan cara mondok di Pondok Pesantren (Ponpes). Sebuah cita-cita luhur yang jarang ditemukan pada jiwa sebaya Ashral pada saat itu.
Berangkat ke Cirebon.
Kemudian pagi-pagi benar Ashral menemui kedua orang tua
dan kerabatnya untuk pamitan dan memohon ijin pergi ke Babakan Ciwaringin,
Cirebon, Jawa Barat.Tujuan utama tak lain adalah untuk ngangsu kawruh (menimba
ilmu) Agama Islam dengan mondok (nyantri) di tanah Cirebon tersebut.
Akhirnya kedua orang tua Ashral dengan berat hati pun
mengijinkan dan merestuinya secara tulus ikhlas.Dengan sedikit uang sebagai
ongkos perjalanan dan dibekali makan untuk keperluan di jalan, maka Ashral
dengan tekad bulat dan nyawiji melangkahkan kaki seorang diri ke tempat yang
dikehendaki, hanya mengikuti kata hati dan ngetuti jangkahing laku raga kang
katuntun suksma.
Inilah awal petualang spiritual seorang anak Mohammad
Ashral pergi ke luar dari sebuah pedukuhan terpencil tempat tanah kelahiran
yang ia cintai. Ia lebih mengutamakan mencari dan mendalami ilmu Agama Islam
dari pada segalanya. Sampai kedua orang tuanya pun yang sangat mengasihi ia
rela tinggalkan, bahkan istri sah yang baru saja ia nikahi juga ia tinggalkan
begitu saja karena ada tugas yang lebih utama harus ia kerjakan.
Perjalanan panjang ia laluhi dengan jiwa lapang dada,
dengan usus panjang, dengan waduk segoro dan pikiran padang. Desa Kesesi
Pekalongan menuju ke Tanah Cirebon Jawa Barat bukan jarak dekat dijalani dengan
berjalan kaki. Saat itu belum ada Angkot atau Angdes seperti sekarang ini yang
jamanya serba instan.
Lain halnya pada jaman Ashral kecil. Butuh tenaga dan
kesabaran ekstra jika ingin bepergian jauh. Tidak mengenal siang atau malam,
perut keroncongan pun diabaikan begitu saja. Tapi semua kelelahan, rintangan,
tidak terasa bagi Ashral, ibarat pepatah Jawa bilang sakpira gedhining sangsara
yen tinampa amung dadi coba (seberapa besarnya penderitaan jika diterima dengan
lapang dada hanyalah sebuah cobaan). Jarak yang jauh, waktu yang lama dan
melelahkan bukan aral rintangan baginya. Pada waktu itu pengasuh Ponpes Babakan
Ciwaringin, Cirebon, Jawa Barat adalah Kyai Munir.
Artikel
By: LEMBAKMI RTIK
Sosok Ki Ageng Cempaluk Sang Penakluk Wilayah (Lembakmi RTIK ‘20)
Sosok Ki Ageng Cempaluk Sang
Penakluk Wilayah
Nama “ki ageng cempaluk”tidak bisa
dipisahkan dari asal-usul Desa Kesesi, sebuah desa di kabupaten pekalongan yang
terkenal dengan jajanan tradisional nya yang tidak asing lagi yaitu apem. Dan keberadaan ki ageng cempaluk
menjadi tokoh bersejarah dan tokoh penting dalam asal-usul berdirinya desa
kesesi.
Di zaman dahulu, dalam sejarah tanah jawa sebutan “ki ageng” digunakan
oleh seseorang yang berpengaruh dalam terbentuknya suatu daerah atau sebutan
yang diberikan oleh raja kepada seseorang karena jasanya terhadap kerajaan.
selain itu sebutan “ki ageng” digunakan untuk tokoh dengan kesaktian legendaris
dalam cerita tutur rakyat. gelar ini digunakan pada masa awal masuknya islam di
pulau jawa, yaitu kira-kira semenjak keruntuhan majapahit hingga awal
berdirinya kerajaan-kerajaan islam.
Sebutan ‘ki’ adalah sebutan untuk seorang lelaki
pada umumnya sedangkan tambahan “ageng atau gede”(besar) adalah penanda bahwa
tokoh tersebut benar-benar pemimpin pada suatu daerah tertentu. sebagai contoh
para leluhur pendahulu “wangsa mataram” sebelum panembahan senopati memakai
gelarki ageng tersebut.
Sehingga karena jasanya kepada kerajaan, latar belakang dengan masalah
kekerabatan, dan pengaruh ilmu yang bermanfaat bagi penduduk di daerah kesesi,
maka beliau diberi sebutan ki ageng
cempaluk.
Nama lain ki ageng tempat lu ya lah biasa dikenal
dengan sebutan ghibah uki ageng tempalo adalah sahabat dari pangeran benowo
yang merupakan seorang raja pajang pajang yang terakhir pangeran benowo
memutuskan untuk berkelana bersama 4 orang sahabatnya termasuk ki ageng cempluk
seusai lengser dari kerajaan pajang maka tak bisa dipungkiri lagi ki ageng
sumpah lu memiliki hubungan yang sangat dekat dengan pangeran benowoselain itu
beliau juga memiliki hubungan dekat dengan sultan mataram pertama yaitu
panembahan senopati diceritakan bahwa pada suatu hari pangeran benowo melakukan
sebuah perjalanan hingga sampai di suatu daerah yang bernama alas pukulan
daerah tersebut yang nantinya menjadi cikal bakal kabupaten kendal yang dibuka
wilayahnya untuk pertama kalinya oleh Pangeran Benowo.
Di lain sisi,ki bahu (ki ageng cempaluk) mendapat
perintah dari panembahan senopati mataram untuk menjadi teman dengan ini ki Ageng
Cempaluk mendapat gelar kyai ngabehibahureka.
Tugasnya adalah agar bisa mengelola wilayah kendal yang kemudian hasilnya
diserahkan kepada pangeran benawa.
Lalu, beberapa waktu kemudian ki ageng cempaluk
diberi tanah perdikan disebuah desa kecil bernama Kesesi di dekat kali Comal. pemberian
ini bukan tanpa alasan namun karena dharma bhakti nya yang besar kepada mataram
yaitu atas jasanya mengembangkan wilayah kendalsari hingga menjadi kabupaten
kendal pada tahun 1601.
Sehingga jelaslah bahwa ki Bahu adalah penguasa de factoKendal yang kemudian berkembang menjadi Kadipaten Kendal
wajar saja bila akhirnya jabatan ini diberikan kepada putranya yaitu BakaBahu
untuk menggantikannya sebagai penguasa Kendal.
Dengan
usia yang sudah tidak muda lagi, ki Bahu berniat untuk ber-uzlah atau menyingkir (menyisih) ke tanah perdikannya yaitu Kesesi.
kegiatan ini beliau lakukan dalam rangka mengasingkan diri dari keramaian duniawi dan mendekatkan diri kepada
Allah Swt.
Maka jika masyarakat awam mengartikan Desa Kesesi itu ‘tersingkir’ atau daerah tak bertuan yang menjadi tempat pelarian para pejabat kerajaan yang kabur, maka sebenarnya bukan itu pengertian yang tepat melainkan tempat Ki Ageng Cempalukber-uzlah atau menyingkirkan diri dari keramaian duniawi.
Kurang lebihnya seperti itulah kisah kehidupan dari sososk Ki Ageng cempaluk. Beliau yang sangat berjasadalam membangun suatu daerah sehingga masyarakat bisa tinggal menikmati hasilnya saat ini.Namun jangan lupa untuk selalu menjaga dengan baik apa yang telah diperjuangkan para tokoh pada zaman dahulu yang kini telah kita nikmati dan juga menjadi amanat atau titipan untuk kita semua. Semoga kita bisa meneladani sosok luar biasa beliau Ki Ageng Cempaluk dalam menjalankan juga menegakkan agama.
Artikel By: Lembakmi RTIK ‘20
ARTIKEL ISLAM MODERAT (Suhali Fahmi)
ARTIKEL ISLAM MODERAT
OLEH : SUHALI FAHMI
Abstrak
Perbedaan adalah rohmat adalah sebuah hadis dari Rasulullah SAW untuk umat islam. Kunci pokok dari sebuah masalah adalah sebuah penyelesaian dari masalah itu sendiri. Berbeda namun satu jua. Umat islam memeng membutuhkan hal itu untuk penyelasain problem solving. Selama jalan yang dipakai adalah benar sesuai dengan syariat agama dan hokum Negara adalah tidak ada masalah. Begitu juga dengan maraknya beberapa masalah yang terjadi di negeri ini. Dari beberapa kasus agama yang masih cekcok dengan halal dan haram. Tentang furuiyah atau cabang dari agama islam yang masih kental di perdebatkan. Konsep islam moderat adalah suatu sikap yang dipakai mengatasi perbedaan tersebut. Konsep islam moderat mengajak orang berislam sesuai hokum Allah SWT sunah nabi serta memahami islam secara kontekstual. Artikel ini akan sedikit mengupas mngenai hal itu.
Kata Kunci:
Berislam ala Indonesia, perbedaan pandangan menegenai islam moderat, dan hokum sunatullah.
A. pendahuluan
Praktek islam moderat itu sebenarnya sudah ada pada zaman nabi SAW. Dimana Nabi dikenal dengan sopan santun akhlaq juga tenggang rasanya yang tinggi, banyak cerita yang mengenai Nabi mempunyai sifat tenggang rasa yang tinggi seperti ketika nabi SAW berdiri ketika melihat jenazah orang kafir yang hendak dimakamkan. [1]Pernah lagi Nabi Hal ihwal cerita nabi tentang modratnya nabi ketika menjadi pemimpin di kota madinah menghormati orang selain beragama islam bisa menjamin hak hak social ataupun ritualnya. Dan masih banyak lagi cerita mengenai tentang hal itu. Lah ? gimana praktek islam di Indonesia yang terjadi, seperti halnya walisongo yang menyebarkan islam di pelosok tanah jawa dengan pendekatan kurtural atau budaya. Seperti halnya sunan kalijaga pendekatannya dengan gaya wayang nya yang terkenal. Dan beberapa tembang khasnya yang di sukai oleh rakyat jawa. Sifat toleran tidak memaksa dalam beragama adalah contoh moderat dalam beragama. Walisongo juga yang mengsukseskan pentebaran islam ditanah jawa ini. Berkatnya islam bisa masuk di tanah jawa, padahal cultural dan spiritual jawa yang begitu kuat hindu budha Namun bisa diubah menjadi islam sesuai konsep agama islam itu sendiri. Hal itu juga bisa dibuktikan dengan beberapa rumah ibadah yang berada yang berdempetan. Konsep islam moderat ini sebenarnya cocok bagi bangsa Indonesia karena sesuai konsep dasar Negara kita Indonesia.
B.
Ada apa islam di Indonesia ?
Di bagian atas beberapa sudah dijelaskan mengenai islam moderat di Indonesia. Islam moderat di Indonesia bermula dari keramahan ajaran islam itu sendiri di dalam penyampaian atau pendakwahannya. Di dalam pembahasan ini islam di Indonesia disampaikan dengan asas cinta. Bukan kebencian terbukti dengan adanya islam diterima secara tangan terbuka oleh beberapa kalangan umat beragana di Indonesia yang masih kental dengan aspek ritualnya.islam yang menjadi fokusnya adalah aspek moralitas. Keramahan kedamiaan, toleransi adalah cirinya islam di Indonesia. Orang Indonesia seperti suku jawa salah satu buktinya apa yang menjadi pokok pembahasan walisongo berdakwah. Walisongo adalah orang yang menyebarkan islam di tanah jawa dengan pendekatan cultural. Walisongo adalah insinyur penyebaran islam di tanah jawa.yang sukses menyebarkan islam di tanah Jawa.
Walisongo masuk pada abad xv- xv1 yang mapu memadukan asas spiritual juga asas cultural dalam mendakwahkakn agama islam di Indonesia. Walisongo adalah the king of religion in the java di Indonesia oleh karenanya islam mendapat simpatik di hati warga jawa.karena walisongo bisa mendakwahakan islam secara dalam tanpa memicu konflik anatara sukku atau ras di Indonesia. Indonesia adalah sebuah Negara yang dahulunya adalah kerajaan, dimana sifat kerajaan adalah basis egoismenya lebih tinggi.juga Indonesia dikenal dengan adat keagamaan yang begitu tinggi. Rakyat Indonesia sebelum merdeka pun dikenal dengan bebrapa tinggkatan. Ada tingktan bangsawan juga rakyat biasa Hal ini yang menjadikan walisonggo mencari problem solving atau pemecahan masalah. Walisongo berhasil menjembatani hal ini menegenai hal itu, beliau bisa mengarkrutrasi nilai budaya juga spritualitas berasakan alquran dan hadis. Seperti halnya ritaual ritaual slametan adat jawa yang sudah mengakar di hati rakyat jawa. Sesajen, persembahan yang semuanya musyrik bisa diubah dengan gampangnya menjadi ritual islami. Walisongo juga paham mengenai kehidupan islam yang terpenting adalah esensi yang paling utama. Pengamalan nilai-nilai islam itu sendiri berbasis pada aspek kehidupan sehari hari.
Hukum sunatullah
“Tidak ada satu pun agama yang tidak berangkat dari sebuah respon sosial. Semua bertolak dan bergumul dari, untuk, dan dengannya. Ketika agama yang merupkan titah suci Tuhan berdialektika dengan relitas sosial, berarti ia masuk pada kubangan sejarah, atau menyejarah. Sejarah, ruang, dan waktu adalah penguji kebenaran serta kekokohan eksistensi agama. Sebagai penguji, sejarah tentu memiliki seperangkat bahan ujian. Bahan itu adalah unsur-unsur budaya setempat, fenomena dan budaya baru, serta rasionalitas.”[2]
Pemahaman islam harus dengan dasar intelektual. Tanpa adanya pengetahuan pastilah cacat dalam memhami islam. Islam itu sendiri adalah agama yang sifatnya universal. Seperti halnya alquran didalam memberi pengetahuan pada umat manusia itu sejalan dengan kemajuan zaman. Begitu pun dengan islam moderat. Islam moderat ini adalah layaknynya sebuah konsep tentang pengetahuan di dalam memahami islam itu sendiri. Islam yang baik adalah yang menghargai perbedaan anatara satu dengnan yang lainnya. Pemahaman yang berbeda namun tetap satu tujuan adalah kata kuncinya.
Kesimpulan
Islam moderat adalah islam washotoniyah islam tidak kanan ataupun kiri. Islam yang seimbang sesuai dengan tuntutan zaman, islam moderat adalah islam pemahamnnya sesuai dengnan alquran hadis. Islam moderat adalah islam yang menghargai toleransi, keramahan, asas tolong menolong. Dalam Qur’an adalah kalimat ummatu washato (umat yang moderat). Islam moderat ini hanya sebuah konsep islami yang sesuai dengan kaidah islam Alquran dan Hadis. Islam ini sejalan juga dengan beberapa aliran yang washotiniyah lainnya seperti Nahdlatul Ulama dan beberapa aliran islam lainnya. Semoga kita bisa memhami lebih lanjut mengenai islam washotiyah ini dan bisa menghargai perbedaan yang terjadi disekeliling kehidupan kita.
DAFTAR PUSTAKA
https://journal.uny.ac.id/index.php/mozaik/article/view/4338/3767 ( pada 10/26/2020 )
muad . sejarah
kehidupan nabi SAW. Bandung .2020
Quraisy shihab . islam
moderat . Jakarta
Said Agiel Siradj,
“Tradisi dan Reformasi Keagamaan”, Republika, 2 Juni
https://kumparan.com/syahirul-alim1526287359707/memahami-islam-moderat-1549606728189779905 ( pada 10/26/2020 )
[1] https://kumparan.com/syahirul-alim1526287359707/memahami-islam-moderat-1549606728189779905 ( pada 10/26/2020 )
[2] Said Agiel Siradj, “Tradisi dan Reformasi
Keagamaan”, Republika, 2 Juni
Kamis, 03 Oktober 2019
Pemuda dan Perjuangan (Arifah Ulfah Zuhairoh)

Tujuh Puluh Empat (74) tahun yang lalu, secarik kertas bernama teks proklamasi dibaca sebagai pengubah status terjajah menjadi merdeka. Hanya satu lembar kertas dengan kalimat-kalimat sederhana namun luar biasa pengaruhnya. Setelah berabad-abad berada di bawah cengkeraman bangsa asing, akhirnya sampai juga pembebasan atas mereka. Segala kebahagiaan itu tak akan bisa diraih tanpa adanya perjuangan. Perjuangan mewujudkan kemerdekaan. Tak hanya bambu runcing tapi juga otak-otak cerdas berfikir dalam meja diplomasi. Berbagai elemen masyarakat ikut andil demi sebuah bangsa bernama Indonesia.
Sebuah kesuksesan tak akan muncul tanpa adanya proses. Setiap proses tak akan berbuah sukses jika tak ada perjuangan di dalamnya. Seperti halnya kemerdekaan Indonesia, tak akan pernah diraih tanpa adanya perjuangan.
Perjuangan menurut KBBI adalah usaha yang penuh dengan kesukaran. Artinya, perjuangan merupakan sebuah cara atau jalan untuk memperoleh sesuatu yang diinginkan dimana jalan tersebut dipenuhi dengan hal-hal yang sulit. Tak ada perjuangan yang mudah untuk dilalui.
Kemudian muncul pertanyaan, apakah perjuangan itu dibutuhkan? Tentu, perjuangan pasti dibutuhkan dan sangat dibutuhkan. Bukankah setiap manusia memiliki cita-cita? Dan bagaimana mereka meraih cita-cita jika mereka tidak melakukan perjuangan? Cita-cita bukan hanya sekedar angan-angan kosong yang hanya hadir dalam bayang-bayang. Cita-cita tak hanya untuk diimpikan tapi juga diperjuangkan. Keberhasilan meraih cita-cita adalah kebahagiaan besar bagi manusia.
Berbicara mengenai cita-cita, Indonesia juga memiliki cita-cita. Selama masa penjajahan, bangsa ini memiliki satu cita-cita utama yaitu meraih kemerdekaan. Cita-cita tersebut tak hanya didiamkan begitu saja, tak hanya hidup dalam angan-angan tapi juga diperjuangkan.
Perjuangan dengan mengangkat senjata maupun perjuangan melalui meja politik. Sama sekali bukanlah hal yang mudah. Harta dan jiwa mereka rela korbankan. Kehilangan nyawa bukanlah masalah, yang terpenting bagi mereka adalah terwujudnya cita-cita bangsa. Merdeka.
Lantas, siapa yang berjuang? Yang berjuang adalah mereka yang memiliki nasib yang sama dan memiliki tujuan yang sama. Hidup lama dalam penderitaan tidak membuat mereka hilang tujuan. Justru itulah, penderitaan memperkuat tujuan. Memang, setiap elemen rakyat ikut mengambil andil tapi yang paling berpengaruh adalah perjuangan yang dilakukan oleh para pemuda. Perintis pergerakan nasional adalah pemuda. Pelaku utama momen Kebangkitan Nasional adalah pemuda.
Pelopor pengakuan satu bangsa, satu tanah air, satu bahasa adalah pemuda. Pembawa perubahan pada suatu bangsa adalah pemuda.
Siapa itu pemuda dan mengapa harus pemuda?
Menurut Aziz Syamsudin secara sosial, definisi pemuda adalah generasi antara 20 sampai 40 tahun. Referensi lain mengatakan bahwa pemuda adalah generasi berusia antara 18 tahun hingga 35 tahun. Sementara dalam kajian ilmu sosial, puncak kematangan peran publik seseorang berkisar antara usia 40-60 tahun. Usia muda biasanya memiliki semangat yang menggebu-gebu hingga terkadang melakukan sesuatu tanpa adanya perhitungan. Bisa dikatakan bahwa usia muda adalah usia paling produktf. Mereka didukung dengan fisik yang kuat sehingga produktivitasnyapun baik.
Namun, konteks pemuda tidak hanya diukur dari usianya. Istilah pemuda lebih sering dikaitkan dengan apa yang telah mereka lakukan. Pemuda dikenali dari bagaimana mereka berpikir dan bagaimana mereka bertindak. Kritis adalah gaya berpikir kaum muda. Mereka biasanya tidak mudah patuh pada suatu aturan. Jiwanya sensitif terhadap sosial. Mereka yang meski telah berusia sekitar 25 tahun, tapi hanya diam, tidak pernah melakukan aksi dan masih ketergantungan pada orang lain, maka “kepemudaannya” perlu dipertanyakan.
Sejarah mencatat, partisipasi pemuda dalam perjuangan sangat besar. Tak hanya di Indonesia, tapi di negara lain pun sama. Dalam setiap peristiwa penting suatu bangsa, pemuda selalu memiliki peranan yang sangat berarti. Pemuda adalah sebagai motor penggerak suatu bangsa.
Banyak yang mengatakan bahwa pemuda adalah agent of change, agen perubahan. Pemuda adalah pelopor perubahan, pelopor pergerakan. Sebut saja, Budi Utomo dan Sumpah Pemuda, Rengasdengklok keduanya dipelopori oleh kaum muda. Perjuangan Bangsa Indonesia yang semula bersifat kedaerahan, bisa dinasionalkan oleh kaum muda. Mereka sadar, perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah tidak bisa dikelompokkan berdassarkan daerah,etnis, agama dan lainnya. Kelompok-kelompok tersebut harus disatukan agar cita-cita bangsa bisa terwujud.
Usia muda adalah usia yang strategis, usia produktif. Ditunjang dengan fisik yang kuat dan pemikiran yang telah matang, pemuda layak untuk menjadi harapan bangsa. Kritis dan kepekaan sosialnya sangat dibutuhkan. Pemuda yang cerdas serta berani adalah pemuda yang sebenarnya. Dalam hal ini, bisa dikatakan bahwa pemuda yang diharapakan adalah mereka para mahasiswa. Mahasiswa memiliki cukup pendidikan dan pengetahuan yang mendorongnya berpikir kritis.
Perjuangan pemuda masa kini
Masa penjajahan telah berlalu, Indonesia telah merdeka. Tak perlu lagi mengangkat senjata, tak perlu lagi berdiplomasi kepada bangsa-bangsa penjajah. Lantas, apakah perjuangan pemuda berhenti begitu saja? Tentu saja tidak. Kepemimpinan Soeharto yang dinilai tidak sesuai dengan hati nurani rakyat adalah contoh real bahwa setelah merdeka pemuda tidak berhenti berjuang. Rakyat yang kelaparan, hidup dalam derita, keadaan negara yang kacau, membuat pemuda terusik. Ketika mulut rakyat dibungkam, para pemuda berani berteriak menyeruakan aspirasi rakyat. Reformasi, mereka menyebutnya. Sebuah perubahan yang diinginkan seluruh rakyat bisa terealisasikan oleh para pemuda.
Kemudian, apa yang dilakukan oleh kaum muda masa kini? Masihkah mereka kritis, masihkah mereka berani, masihkah mereka berjuang? Indonesia masa lalu hingga Indonesia masa kini masih membutuhkan peran kaum muda.
Soekarno pernah mengatakan bahwa perjuangannya lebih mudah karena berjuang melawan bangsa lain sedangkan perjuangan generasi masa kini lebih sulit karena mereka berjuang melawan bangsanya sendiri. Pemuda masa kini harus lebih peka terhadap keadaan bangsanya.
Pemuda khususnya mahasiswa masa kini cenderung acuh terhadap keadaan sosial. Mereka sibuk dengan konsumerisme dan hedonisme. Kenakalan remaja, narkotika telah meracuni mereka. Mereka lebih suka bersosial media di dunia maya dari pada membaca buku dan mengamati keadaan bangsa. Krisis moral dan rasa malas belajar semakin mewabah. Ketika semua orang mengharapkan peran pemuda, kini entah dimana mereka.
Seperti pernah dikatakan Taufiq Ismail dalam puisinya, Takut 66, Takut 98
Mahasiswa takut pada dosen
Dosen takut pada dekan
Dekan takut pada rektor
Rektor takut pada menteri
Menteri takut pada presiden
Presiden takut pada mahasiswa
Jelas di dalam puisi tersebut, peran pemuda terkhusus mahasiswa bisa menggeser peran seorang presiden. Yang dibutuhkan Indonesia bukan pemuda tak berpendidikan, pemuda pengangguran, ataupun pemuda nakal. Indonesia butuh pemuda intelek, pemuda yang peka social, pemuda yang dengan tulus hati mau berjuang untuk bangsanya. Mahasiswa sebagai elemen utama pemuda seharusnya bisa memberi sumbangsih besar terhadap perubahan.
Para pemuda, para mahasiswa, Indonesia menunggu kalian beraksi. Indonesia menunggu kalian melakukan perubahan lagi. 71 tahun merdeka, namun belum ada kemajuan, apakah kalian masih nyaman dengan foya-foya kalian? Apakah kalian apakah kalian belum juga terusik untuk bergerak? Mari kita fikirkan bersama.




