Jumat, 04 November 2022
Selasa, 25 Oktober 2022
Kajian Merdeka Belajar: Transformasi Dana Pemerintah Untuk Perguruan Tinggi
Transformasi Dana Pemerintah untuk Perguruan Tinggi
Pada tanggal 24 Oktober 2022, PMII Rayon Tarbiyah melaksanakan kajian merdeka belajar mengenai transformasi dana pemerintah untuk perguruan tinggi.
Salah satu program merdeka belajar yang menjadi trobosan dari Kemendikbud, pendidikan tinggi memiliki dampak besar untuk kualitas pendidikan di Indonesia. Perguruan tinggi mengalami peningkatan kuantitas pada tahun 2018, namun kualitas dari hasil atau output perguruan tinggi belum baik. Untuk meningkatkan kualitas atau mutu sebuah perguruan tinggi juga didukung oleh peningkatan pendanaan pendidikan tinggi, pada tahun 2020 rata-rata penguluaran pendidikan tinggi di Indonesia hanya kurang dari 28 juta, yaitu menduduki posisi kedua terendah setelah filipina, trobosan pada tahun 2021 yaitu adanya peningkatan dana sebesar 70%.
Tujuan dari peningkatan pendanaan menyasar tiga tujuan, yaitu: lulusan agar lebih mudah dapat pekerjaan dan berpenghasilan layak, dosen lebih mengerti kebutuhan masyarakat dan industri, kurikulum lebih mengasah keterampilan kolaborasi dan pemecahan masalah.
Yang menjadi landasan transformasi pendidikan tinggi, antara lain:
1. Lulusan mendapat pekerjaan yang layak.
2.Mahasiswa mendapat pengalaman di luar kampus.
3. Dosen berkegiatan di luar kampus.
4. Praktisi mengajar di dalam kampus.
5. Hasil kerja digunakan oleh masyarakat atau mendapat rekognisi internasional.
6. Program studi bekerjasama dengan mitra kelas dunia.
7. Kelas yang kolaboratif dan partisipatif
8. Program studi berstandar nasional.
Transformasi dana pemerintah untuk pendidikan tinggi ada tiga, yaitu:
1. Insentif berdasarkan capaian IKU: bagi PTN yang bisa mencapai IKU atau mencapai target (gold standard) akan diberikan tambahan dana sebesar 1,3 Triliun. Alokasi dasar sebesar 800 miliar, dan Bonus 500 miliar untuk PTN yang bisa mencapai IKU terbanyak dan gold standard yang ditetapkan kemendikbud (bonus ini dapat digunakan untuk bonus kinerja SDM.
2. Matching Fund yaitu kerja sama antara Perguruan tinggi dengan perusahaan yang memenuhi 8 IKU , Kemendikbud memfasilitasi adanya aplikasi yang mempertemukan antara kebutuhan perusahaan dengan SDM perguruan tinggi. Untuk pelaksanaan matching fund ini sebesar 250 miliar.
3. Competitive Fund (program kompetisi kampus merdeka): dengan dana sebesar 500 miliar, yang bertujuan untuk mewujudkan aspirasi masing-masing perguruan tinggi, mendorong potensi capaian 8 IKU.
Pemateri: Reza Mahdafi
Penulis: Syafa’atul Khusna
Editor:
Ani Khofifah
Wafiq Izzul Hanna
Kamis, 20 Oktober 2022
Kajian Mereka Belajar: Guru Penggerak
Senin, 10 Oktober 2022
Kajian Merdeka Belajar: Program Organisasi Penggerak
Dalam kegiatan Kajian Merdeka Belajar yang ke-2 ini, Rayon Tarbiyah dan Ilmu Keguruan mengkaji dan berdiskusi tentang Program Organisasi Penggerak.
Apa yang dimaksud progran organisasi penggerak? Apa yang melatar belakangi dibentuknya program organisasi penggerak?Apa peran dan kontribusi yang bisa dilakukan mahasiswa dalam hal ini?
Penggerak : yang memulai penggerakan
Program organisasi penggerak termasuk dari program merdeka belajar.
Ada 2 program yaitu :
1. Sekolah Penggerak : Sekolah yang berhasil menerapkan program merdeka belajar.
2. Organisasi Penggerak : Yang memberikan pelatihan-pelatihan.
Organisasi penggerak mendapatkan dana dari KEMENDIKBUD.
Tujuan sekolah penggerak adalah Profil Pelajar Pancasila yang :
1. Berakhlak mulia,
2. Kreatif
3. Gotong royong ( agar pelajar bisa berkolaborasi dengan orang lain)
4. Kebhinekaan Global (rasa hormat yang tinggi)
5. Bernalar Kritis
6. Kemandirian (mempunyai motivasi belajar dari diri sendiri bukan dari faktor luar)
Dalam program organisasi penggerak ada program sekolah penggerak.
Komponen program organisasi penggerak
Guru yang paham tugas bahwa sekolah bukan hanya transfer ilmu
Program organisasi penggerak diajukan kepada PAUD, SD, dan SMP.
Kenapa dikhususkan kepada PAUD, SD dan SMP? Karena menurut penelitian bahwa anak yang masih muda lebih mudah dipengaruhi, sehingga perubahan akan lebih mudah.
Kategori Sekolah Penggerak ada 3, yaitu:
1. Gajah : Sekolah yang berhasil menerapkan programnya
2. Macan : Sekolah yang belum ada secara jelas namun sudah terindikasi menjalankan.
3. Kijang : Sekolah yang sudah memiliki gambaran/tujuan, namun belum terealisasi.
- Kategori Organisasi Penggerak ada 3, yaitu:
1. Gajah : Program sudah berhasil selama 3 tahun
2. Macan : Program sudah berhasil selama 1 tahun
3. Kijang : Program dilakukan oleh ormas yang sudah berpengalaman namun program belum berhasil.
Ranah organisasi penggerak itu merupakan literasi dan numerasi. Dalam organisasi penggerak juga mendukung program MBKM, yaitu mahasiswa boleh mengikuti organisasi penggerak yang bisa dilakukan oleh mahasiswa selama 2 semester(40 sks).
Cara mengetahui sekolah penggerak itu berhasil adalah:
1. SD dan SMP : Assisment kompetensi dan karakter.
2. PAUD : Instrumen capaian pertumbuhan dan perkembangan anak
3. Pengukuran peningkatan motivasi, pengetahuan, dan praktek mengajar guru dan kepala sekolah.
Sumber kajian:
Kementrian Pendidikan dan kebudayaan, Merdeka kajian: Program organisasi Penggerak, 2020
Pemantik Kajian: Syafa’atul Khusna
Penulis: Muhammad Nurul Khikam
Editor: Ani Khofifah
Senin, 03 Oktober 2022
Merdeka Belajar Kampus Merdeka
Selasa, 08 Juni 2021
Perjuangan dan kisah hidup Syekh Mohammad al Mbah Wali Gendon Kesesi (Lembakmi RTIK ‘20)
Jum'at, 7 Agustus 2020 pengurus Rayon Tarbiyah dan
Ilmu Keguruan Komisariat Ki Ageng Ganjur IAIN Pekalongan mengadakan kegiatan
ziarah religi di makam Syekh Mohammad Ashral (Mbah Wali Gendhon) Kesesi,
Pekalongan dan di makam Ki Ageng Cempaluk, Kesesi, Pekalongan. Kegiatan
tersebut diadakan oleh pengurus Rayon Tarbiyah dan Ilmu Keguruan dengan tujuan
untuk mengenang jasa dan perjuangan ulama Nusantara.
Untuk lebih memahami akan sejarah dari beliau maka kita juga perlu mengadakan kajian lebih lanjut mengenai perjuangan dan kisah hidup Syekh Mohammad (Mbah Wali Gendon) dan Ki Ageng Cempaluk. Berikut penjelasan singkatnya
Makam Syekh Mohammad Ashral al
Mbah Wali Gendhon Kesesi
Sekitar
seratus enam puluh enam tahun yang lalu pada sebuah pedukuhan terpencil jauh
dari keramaian kota, yakni di Dukuh Kauman, Desa Kesesi, Kecamatan Kesesi,
Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, lahirlah seorang bayi laki-laki ganteng
dengan kulit sawo matang dari seorang ayah bernama Tarab dan ibu nya Tarkumi.
Bayi yang lahir di malam hari tersebut diberi nama Mohammad Ashral tepatnya
terlahir di tahun 1847 M.
Ashral
lahir di lingkungan keluarga sederhana dan mandiri, hidup apa adanya serta
tidak mengenal dunia kemewahan. Bahkan setelah menginjak usia baligh , ia sudah
ikut menggembalakan hewan ternak piaraan orang lain, untuk mengisi kesibukannya
sebagai seorang anak seperti pada umumnya yang suka bermain dan bermain.
Di
mata teman sebayanya, Ashral kecil ini dikenal sebagai anak pendiam dan dalam
pergaulan ia selalu mengalah di segala hal, juga sifat sebagai seorang pemaaf
sudah ditunjukan semenjak ia masih kecil meskipun banyak teman bermain tidak
jarang yang menyakiti, bahkan tidak jarang pula yang menghinanya. Dalam diri
Ashral tidak terbesit sedikitpun muncul perasaan dendam. Seketika itu pun ia
senantiasa langsung memaafkan teman sepermainan
yang menghinanya walau tidak diminta.
Seiring
berjalannya waktu, kini Ashral telah menginjak usia remaja akan tetapi sifatnya
masih seperti Ashral kecil dulu yang pendiam dan pemaaf. Barangkali sudah
menjadi karakter dan perwatakannya dan pengaruh dari pada sebuah pergaulan
tidak mempan merubah kepribadiannya yang sudah meresap dalam tulang dan daging
bocah kecil ini.
Bahkan
tidak jarang Ashral memperlihatkan sebuah keanehan (keunikan, keajaiban) yang
tidak dimiliki oleh anak-anak seusianya. Yang lebih menonjol yaitu ia lebih
senang menjauh dari kehidupan yang bersifat keduniawiyah (kesenangan dunia
semata), seakan ia sudah tahu betul sejak kecil bahwa dunia dan seisinya hanya
cuma titipan-Nya, oleh karena itu ia lebih asyik mencari sesuatu yang lebih
hakiki.
Ia
lebih melihat ke sebuah esensi bukan sekedar eksistensinya saja. Atau
barangkali Ashral kecil sedang mencari sebuah mutiara hidup yang bersemayam
dalam dirinya sendiri.Inilah keunikan Ashral kecil selalu menjauh dan menjauh
dari sesuatu yang bersifat kediawian.
Dipandang
sudah dewasa oleh orang tuanya, maka pada suatu ketika kedua orang tua Ashral
memperkenalkan pada seorang perempuan untuk dijadikan sebagai pendamping hidup
Ashral. Sebab usia sebaya
Ashral di sebuah Pedukuhan Kauman Kesesi rata-rata sudah pada menikah usia
muda. Saat itu menikah di usia mudah bukan hal aneh atau menikah usia muda bisa
dianggap melanggar UU PPA seperti sekarang ini.
Usia sebelasan tahun di Dukuh Kauman sudah banyak yang
menikah, hal ini disebabkan oleh karena tradisi dari leluhur sebelumnya dan
turun temurun ke generasi berikutnya.
Tak lama kemudian sebuah perkawinan (ijab kobul) pun
dilaksanakan antara Ashral dengan wanita tersebut (tidak dijelaskan nama wanita
dan alamat). Namun, tiba-tiba semua terhenyak kaget melihat ulah Ashral.Yang
terjadi tidak seperti pada umumnya seorang lelaki setelah meminang seorang
perempuan.
Tatkala setelah ijab kobul (akad nikah) dilaksanakan pada
hari itu pulalah Ashral langsung pulang kembali ke rumah orang tua bersama
teman pengiring (pengantar pengantin) dan tidak mau kembali lagi ke tempat
istrinya yang baru saja dinikahi.
Kedua orang tua Ashral pun kaget dan dibuat bingung
olehnya. Beliau berusaha mencari tahu apa sebab musabab anaknya pulang secepat
itu. Selaksa pertanyaan pun mengelayut dibenak kedua orang tua Ashral.
Akhirnya, teka teki itu pun terjawab seketika.
“Nangapa kowe balik ora gelem mbojo, lup?”
“Aku pingin mondok bae, Mak. Aku kepingin aring pesantren
sinau agama men pinter,” jawabnya singkat dan menthes.
Sebab Mohammad Ashral pulang seketika dikarenakan ia belum ingin berumah tangga. Pada saat itu yang diinginkan Ashral muda bukan mencari pendamping hidup atau seorang istri, akan tetapi ia terpanggil dari telenging ati (jiwa yang dalam) hanya ingin menimba pengetahuan ilmu Agama Islam yang lebih mendalam dengan cara mondok di Pondok Pesantren (Ponpes). Sebuah cita-cita luhur yang jarang ditemukan pada jiwa sebaya Ashral pada saat itu.
Berangkat ke Cirebon.
Kemudian pagi-pagi benar Ashral menemui kedua orang tua
dan kerabatnya untuk pamitan dan memohon ijin pergi ke Babakan Ciwaringin,
Cirebon, Jawa Barat.Tujuan utama tak lain adalah untuk ngangsu kawruh (menimba
ilmu) Agama Islam dengan mondok (nyantri) di tanah Cirebon tersebut.
Akhirnya kedua orang tua Ashral dengan berat hati pun
mengijinkan dan merestuinya secara tulus ikhlas.Dengan sedikit uang sebagai
ongkos perjalanan dan dibekali makan untuk keperluan di jalan, maka Ashral
dengan tekad bulat dan nyawiji melangkahkan kaki seorang diri ke tempat yang
dikehendaki, hanya mengikuti kata hati dan ngetuti jangkahing laku raga kang
katuntun suksma.
Inilah awal petualang spiritual seorang anak Mohammad
Ashral pergi ke luar dari sebuah pedukuhan terpencil tempat tanah kelahiran
yang ia cintai. Ia lebih mengutamakan mencari dan mendalami ilmu Agama Islam
dari pada segalanya. Sampai kedua orang tuanya pun yang sangat mengasihi ia
rela tinggalkan, bahkan istri sah yang baru saja ia nikahi juga ia tinggalkan
begitu saja karena ada tugas yang lebih utama harus ia kerjakan.
Perjalanan panjang ia laluhi dengan jiwa lapang dada,
dengan usus panjang, dengan waduk segoro dan pikiran padang. Desa Kesesi
Pekalongan menuju ke Tanah Cirebon Jawa Barat bukan jarak dekat dijalani dengan
berjalan kaki. Saat itu belum ada Angkot atau Angdes seperti sekarang ini yang
jamanya serba instan.
Lain halnya pada jaman Ashral kecil. Butuh tenaga dan
kesabaran ekstra jika ingin bepergian jauh. Tidak mengenal siang atau malam,
perut keroncongan pun diabaikan begitu saja. Tapi semua kelelahan, rintangan,
tidak terasa bagi Ashral, ibarat pepatah Jawa bilang sakpira gedhining sangsara
yen tinampa amung dadi coba (seberapa besarnya penderitaan jika diterima dengan
lapang dada hanyalah sebuah cobaan). Jarak yang jauh, waktu yang lama dan
melelahkan bukan aral rintangan baginya. Pada waktu itu pengasuh Ponpes Babakan
Ciwaringin, Cirebon, Jawa Barat adalah Kyai Munir.
Artikel
By: LEMBAKMI RTIK
Sosok Ki Ageng Cempaluk Sang Penakluk Wilayah (Lembakmi RTIK ‘20)
Sosok Ki Ageng Cempaluk Sang
Penakluk Wilayah
Nama “ki ageng cempaluk”tidak bisa
dipisahkan dari asal-usul Desa Kesesi, sebuah desa di kabupaten pekalongan yang
terkenal dengan jajanan tradisional nya yang tidak asing lagi yaitu apem. Dan keberadaan ki ageng cempaluk
menjadi tokoh bersejarah dan tokoh penting dalam asal-usul berdirinya desa
kesesi.
Di zaman dahulu, dalam sejarah tanah jawa sebutan “ki ageng” digunakan
oleh seseorang yang berpengaruh dalam terbentuknya suatu daerah atau sebutan
yang diberikan oleh raja kepada seseorang karena jasanya terhadap kerajaan.
selain itu sebutan “ki ageng” digunakan untuk tokoh dengan kesaktian legendaris
dalam cerita tutur rakyat. gelar ini digunakan pada masa awal masuknya islam di
pulau jawa, yaitu kira-kira semenjak keruntuhan majapahit hingga awal
berdirinya kerajaan-kerajaan islam.
Sebutan ‘ki’ adalah sebutan untuk seorang lelaki
pada umumnya sedangkan tambahan “ageng atau gede”(besar) adalah penanda bahwa
tokoh tersebut benar-benar pemimpin pada suatu daerah tertentu. sebagai contoh
para leluhur pendahulu “wangsa mataram” sebelum panembahan senopati memakai
gelarki ageng tersebut.
Sehingga karena jasanya kepada kerajaan, latar belakang dengan masalah
kekerabatan, dan pengaruh ilmu yang bermanfaat bagi penduduk di daerah kesesi,
maka beliau diberi sebutan ki ageng
cempaluk.
Nama lain ki ageng tempat lu ya lah biasa dikenal
dengan sebutan ghibah uki ageng tempalo adalah sahabat dari pangeran benowo
yang merupakan seorang raja pajang pajang yang terakhir pangeran benowo
memutuskan untuk berkelana bersama 4 orang sahabatnya termasuk ki ageng cempluk
seusai lengser dari kerajaan pajang maka tak bisa dipungkiri lagi ki ageng
sumpah lu memiliki hubungan yang sangat dekat dengan pangeran benowoselain itu
beliau juga memiliki hubungan dekat dengan sultan mataram pertama yaitu
panembahan senopati diceritakan bahwa pada suatu hari pangeran benowo melakukan
sebuah perjalanan hingga sampai di suatu daerah yang bernama alas pukulan
daerah tersebut yang nantinya menjadi cikal bakal kabupaten kendal yang dibuka
wilayahnya untuk pertama kalinya oleh Pangeran Benowo.
Di lain sisi,ki bahu (ki ageng cempaluk) mendapat
perintah dari panembahan senopati mataram untuk menjadi teman dengan ini ki Ageng
Cempaluk mendapat gelar kyai ngabehibahureka.
Tugasnya adalah agar bisa mengelola wilayah kendal yang kemudian hasilnya
diserahkan kepada pangeran benawa.
Lalu, beberapa waktu kemudian ki ageng cempaluk
diberi tanah perdikan disebuah desa kecil bernama Kesesi di dekat kali Comal. pemberian
ini bukan tanpa alasan namun karena dharma bhakti nya yang besar kepada mataram
yaitu atas jasanya mengembangkan wilayah kendalsari hingga menjadi kabupaten
kendal pada tahun 1601.
Sehingga jelaslah bahwa ki Bahu adalah penguasa de factoKendal yang kemudian berkembang menjadi Kadipaten Kendal
wajar saja bila akhirnya jabatan ini diberikan kepada putranya yaitu BakaBahu
untuk menggantikannya sebagai penguasa Kendal.
Dengan
usia yang sudah tidak muda lagi, ki Bahu berniat untuk ber-uzlah atau menyingkir (menyisih) ke tanah perdikannya yaitu Kesesi.
kegiatan ini beliau lakukan dalam rangka mengasingkan diri dari keramaian duniawi dan mendekatkan diri kepada
Allah Swt.
Maka jika masyarakat awam mengartikan Desa Kesesi itu ‘tersingkir’ atau daerah tak bertuan yang menjadi tempat pelarian para pejabat kerajaan yang kabur, maka sebenarnya bukan itu pengertian yang tepat melainkan tempat Ki Ageng Cempalukber-uzlah atau menyingkirkan diri dari keramaian duniawi.
Kurang lebihnya seperti itulah kisah kehidupan dari sososk Ki Ageng cempaluk. Beliau yang sangat berjasadalam membangun suatu daerah sehingga masyarakat bisa tinggal menikmati hasilnya saat ini.Namun jangan lupa untuk selalu menjaga dengan baik apa yang telah diperjuangkan para tokoh pada zaman dahulu yang kini telah kita nikmati dan juga menjadi amanat atau titipan untuk kita semua. Semoga kita bisa meneladani sosok luar biasa beliau Ki Ageng Cempaluk dalam menjalankan juga menegakkan agama.
Artikel By: Lembakmi RTIK ‘20







