Selasa, 08 Juni 2021

Perjuangan dan kisah hidup Syekh Mohammad al Mbah Wali Gendon Kesesi (Lembakmi RTIK ‘20)

Jum'at, 7 Agustus 2020 pengurus Rayon Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Komisariat Ki Ageng Ganjur IAIN Pekalongan mengadakan kegiatan ziarah religi di makam Syekh Mohammad Ashral (Mbah Wali Gendhon) Kesesi, Pekalongan dan di makam Ki Ageng Cempaluk, Kesesi, Pekalongan. Kegiatan tersebut diadakan oleh pengurus Rayon Tarbiyah dan Ilmu Keguruan dengan tujuan untuk mengenang jasa dan perjuangan ulama Nusantara.

Untuk lebih memahami akan sejarah dari beliau maka kita juga perlu mengadakan kajian lebih lanjut mengenai perjuangan dan kisah hidup Syekh  Mohammad (Mbah Wali Gendon) dan Ki Ageng Cempaluk. Berikut penjelasan singkatnya

Makam Syekh Mohammad Ashral al Mbah Wali Gendhon Kesesi

Sekitar seratus enam puluh enam tahun yang lalu pada sebuah pedukuhan terpencil jauh dari keramaian kota, yakni di Dukuh Kauman, Desa Kesesi, Kecamatan Kesesi, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, lahirlah seorang bayi laki-laki ganteng dengan kulit sawo matang dari seorang ayah bernama Tarab dan ibu nya Tarkumi. Bayi yang lahir di malam hari tersebut diberi nama Mohammad Ashral tepatnya terlahir di tahun 1847 M.

Ashral lahir di lingkungan keluarga sederhana dan mandiri, hidup apa adanya serta tidak mengenal dunia kemewahan. Bahkan setelah menginjak usia baligh , ia sudah ikut menggembalakan hewan ternak piaraan orang lain, untuk mengisi kesibukannya sebagai seorang anak seperti pada umumnya yang suka bermain dan bermain.

Di mata teman sebayanya, Ashral kecil ini dikenal sebagai anak pendiam dan dalam pergaulan ia selalu mengalah di segala hal, juga sifat sebagai seorang pemaaf sudah ditunjukan semenjak ia masih kecil meskipun banyak teman bermain tidak jarang yang menyakiti, bahkan tidak jarang pula yang menghinanya. Dalam diri Ashral tidak terbesit sedikitpun muncul perasaan dendam. Seketika itu pun ia senantiasa langsung memaafkan teman sepermainan  yang menghinanya walau tidak diminta.

Seiring berjalannya waktu, kini Ashral telah menginjak usia remaja akan tetapi sifatnya masih seperti Ashral kecil dulu yang pendiam dan pemaaf. Barangkali sudah menjadi karakter dan perwatakannya dan pengaruh dari pada sebuah pergaulan tidak mempan merubah kepribadiannya yang sudah meresap dalam tulang dan daging bocah kecil ini.

Bahkan tidak jarang Ashral memperlihatkan sebuah keanehan (keunikan, keajaiban) yang tidak dimiliki oleh anak-anak seusianya. Yang lebih menonjol yaitu ia lebih senang menjauh dari kehidupan yang bersifat keduniawiyah (kesenangan dunia semata), seakan ia sudah tahu betul sejak kecil bahwa dunia dan seisinya hanya cuma titipan-Nya, oleh karena itu ia lebih asyik mencari sesuatu yang lebih hakiki.

Ia lebih melihat ke sebuah esensi bukan sekedar eksistensinya saja. Atau barangkali Ashral kecil sedang mencari sebuah mutiara hidup yang bersemayam dalam dirinya sendiri.Inilah keunikan Ashral kecil selalu menjauh dan menjauh dari sesuatu yang bersifat kediawian.

Dipandang sudah dewasa oleh orang tuanya, maka pada suatu ketika kedua orang tua Ashral memperkenalkan pada seorang perempuan untuk dijadikan sebagai pendamping hidup Ashral. Sebab usia sebaya Ashral di sebuah Pedukuhan Kauman Kesesi rata-rata sudah pada menikah usia muda. Saat itu menikah di usia mudah bukan hal aneh atau menikah usia muda bisa dianggap melanggar UU PPA seperti sekarang ini.

Usia sebelasan tahun di Dukuh Kauman sudah banyak yang menikah, hal ini disebabkan oleh karena tradisi dari leluhur sebelumnya dan turun temurun ke generasi berikutnya.

Tak lama kemudian sebuah perkawinan (ijab kobul) pun dilaksanakan antara Ashral dengan wanita tersebut (tidak dijelaskan nama wanita dan alamat). Namun, tiba-tiba semua terhenyak kaget melihat ulah Ashral.Yang terjadi tidak seperti pada umumnya seorang lelaki setelah meminang seorang perempuan.

Tatkala setelah ijab kobul (akad nikah) dilaksanakan pada hari itu pulalah Ashral langsung pulang kembali ke rumah orang tua bersama teman pengiring (pengantar pengantin) dan tidak mau kembali lagi ke tempat istrinya yang baru saja dinikahi.

Kedua orang tua Ashral pun kaget dan dibuat bingung olehnya. Beliau berusaha mencari tahu apa sebab musabab anaknya pulang secepat itu. Selaksa pertanyaan pun mengelayut dibenak kedua orang tua Ashral.

Akhirnya, teka teki itu pun terjawab seketika.

“Nangapa kowe balik ora gelem mbojo, lup?”

“Aku pingin mondok bae, Mak. Aku kepingin aring pesantren sinau agama men pinter,” jawabnya singkat dan menthes.

Sebab Mohammad Ashral pulang seketika dikarenakan ia belum ingin berumah tangga. Pada saat itu yang diinginkan Ashral muda bukan mencari pendamping hidup atau seorang istri, akan tetapi ia terpanggil dari telenging ati (jiwa yang dalam) hanya ingin menimba pengetahuan ilmu Agama Islam yang lebih mendalam dengan cara mondok di Pondok Pesantren (Ponpes). Sebuah cita-cita luhur yang jarang ditemukan pada jiwa sebaya Ashral pada saat itu.

Berangkat ke Cirebon.

Kemudian pagi-pagi benar Ashral menemui kedua orang tua dan kerabatnya untuk pamitan dan memohon ijin pergi ke Babakan Ciwaringin, Cirebon, Jawa Barat.Tujuan utama tak lain adalah untuk ngangsu kawruh (menimba ilmu) Agama Islam dengan mondok (nyantri) di tanah Cirebon tersebut.

Akhirnya kedua orang tua Ashral dengan berat hati pun mengijinkan dan merestuinya secara tulus ikhlas.Dengan sedikit uang sebagai ongkos perjalanan dan dibekali makan untuk keperluan di jalan, maka Ashral dengan tekad bulat dan nyawiji melangkahkan kaki seorang diri ke tempat yang dikehendaki, hanya mengikuti kata hati dan ngetuti jangkahing laku raga kang katuntun suksma.

Inilah awal petualang spiritual seorang anak Mohammad Ashral pergi ke luar dari sebuah pedukuhan terpencil tempat tanah kelahiran yang ia cintai. Ia lebih mengutamakan mencari dan mendalami ilmu Agama Islam dari pada segalanya. Sampai kedua orang tuanya pun yang sangat mengasihi ia rela tinggalkan, bahkan istri sah yang baru saja ia nikahi juga ia tinggalkan begitu saja karena ada tugas yang lebih utama harus ia kerjakan.

Perjalanan panjang ia laluhi dengan jiwa lapang dada, dengan usus panjang, dengan waduk segoro dan pikiran padang. Desa Kesesi Pekalongan menuju ke Tanah Cirebon Jawa Barat bukan jarak dekat dijalani dengan berjalan kaki. Saat itu belum ada Angkot atau Angdes seperti sekarang ini yang jamanya serba instan.

Lain halnya pada jaman Ashral kecil. Butuh tenaga dan kesabaran ekstra jika ingin bepergian jauh. Tidak mengenal siang atau malam, perut keroncongan pun diabaikan begitu saja. Tapi semua kelelahan, rintangan, tidak terasa bagi Ashral, ibarat pepatah Jawa bilang sakpira gedhining sangsara yen tinampa amung dadi coba (seberapa besarnya penderitaan jika diterima dengan lapang dada hanyalah sebuah cobaan). Jarak yang jauh, waktu yang lama dan melelahkan bukan aral rintangan baginya. Pada waktu itu pengasuh Ponpes Babakan Ciwaringin, Cirebon, Jawa Barat adalah Kyai Munir.

Artikel By: LEMBAKMI RTIK


Sosok Ki Ageng Cempaluk Sang Penakluk Wilayah (Lembakmi RTIK ‘20)

 


Sosok Ki Ageng Cempaluk Sang Penakluk Wilayah

Nama “ki ageng cempaluk”tidak bisa dipisahkan dari asal-usul Desa Kesesi, sebuah desa di kabupaten pekalongan yang terkenal dengan jajanan tradisional nya yang tidak asing lagi yaitu apem. Dan keberadaan ki ageng cempaluk menjadi tokoh bersejarah dan tokoh penting dalam asal-usul berdirinya desa kesesi.

             Di zaman dahulu, dalam sejarah tanah jawa sebutan “ki ageng” digunakan oleh seseorang yang berpengaruh dalam terbentuknya suatu daerah atau sebutan yang diberikan oleh raja kepada seseorang karena jasanya terhadap kerajaan. selain itu sebutan “ki ageng” digunakan untuk tokoh dengan kesaktian legendaris dalam cerita tutur rakyat. gelar ini digunakan pada masa awal masuknya islam di pulau jawa, yaitu kira-kira semenjak keruntuhan majapahit hingga awal berdirinya kerajaan-kerajaan islam.

            Sebutan ‘ki’ adalah sebutan untuk seorang lelaki pada umumnya sedangkan tambahan “ageng atau gede”(besar) adalah penanda bahwa tokoh tersebut benar-benar pemimpin pada suatu daerah tertentu. sebagai contoh para leluhur pendahulu “wangsa mataram” sebelum panembahan senopati memakai gelarki ageng tersebut.

      Sehingga karena jasanya kepada kerajaan, latar belakang dengan masalah kekerabatan, dan pengaruh ilmu yang bermanfaat bagi penduduk di daerah kesesi, maka beliau diberi sebutan ki ageng cempaluk.

        Nama lain ki ageng tempat lu ya lah biasa dikenal dengan sebutan ghibah uki ageng tempalo adalah sahabat dari pangeran benowo yang merupakan seorang raja pajang pajang yang terakhir pangeran benowo memutuskan untuk berkelana bersama 4 orang sahabatnya termasuk ki ageng cempluk seusai lengser dari kerajaan pajang maka tak bisa dipungkiri lagi ki ageng sumpah lu memiliki hubungan yang sangat dekat dengan pangeran benowoselain itu beliau juga memiliki hubungan dekat dengan sultan mataram pertama yaitu panembahan senopati diceritakan bahwa pada suatu hari pangeran benowo melakukan sebuah perjalanan hingga sampai di suatu daerah yang bernama alas pukulan daerah tersebut yang nantinya menjadi cikal bakal kabupaten kendal yang dibuka wilayahnya untuk pertama kalinya oleh Pangeran Benowo.

        Di lain sisi,ki bahu (ki ageng cempaluk) mendapat perintah dari panembahan senopati mataram untuk menjadi teman dengan ini ki Ageng Cempaluk mendapat gelar kyai ngabehibahureka. Tugasnya adalah agar bisa mengelola wilayah kendal yang kemudian hasilnya diserahkan kepada pangeran benawa.

        Lalu, beberapa waktu kemudian ki ageng cempaluk diberi tanah perdikan disebuah desa kecil bernama Kesesi di dekat kali Comal. pemberian ini bukan tanpa alasan namun karena dharma bhakti nya yang besar kepada mataram yaitu atas jasanya mengembangkan wilayah kendalsari hingga menjadi kabupaten kendal pada tahun 1601.

           Sehingga jelaslah bahwa ki Bahu adalah penguasa de factoKendal yang kemudian berkembang menjadi Kadipaten Kendal wajar saja bila akhirnya jabatan ini diberikan kepada putranya yaitu BakaBahu untuk menggantikannya sebagai penguasa Kendal.

       Dengan usia yang sudah tidak muda lagi, ki Bahu berniat untuk ber-uzlah atau menyingkir (menyisih) ke tanah perdikannya yaitu Kesesi. kegiatan ini beliau lakukan dalam rangka mengasingkan diri dari  keramaian duniawi dan mendekatkan diri kepada Allah Swt.

            Maka jika masyarakat awam mengartikan Desa Kesesi itu ‘tersingkir’ atau daerah tak bertuan yang menjadi tempat pelarian para pejabat kerajaan yang kabur, maka sebenarnya bukan itu pengertian yang tepat melainkan tempat Ki Ageng Cempalukber-uzlah atau menyingkirkan diri dari keramaian duniawi.

Kurang lebihnya seperti itulah kisah kehidupan dari sososk Ki Ageng cempaluk. Beliau yang sangat berjasadalam membangun suatu daerah sehingga masyarakat bisa tinggal menikmati hasilnya saat ini.Namun jangan lupa untuk selalu menjaga dengan baik apa yang telah diperjuangkan para tokoh pada zaman dahulu yang kini telah kita nikmati dan juga menjadi amanat atau titipan untuk kita semua. Semoga kita bisa meneladani sosok luar biasa beliau Ki Ageng Cempaluk dalam menjalankan juga menegakkan agama.

Artikel By: Lembakmi RTIK ‘20


ARTIKEL ISLAM MODERAT (Suhali Fahmi)


ARTIKEL ISLAM MODERAT

OLEH : SUHALI FAHMI 



Abstrak

Perbedaan adalah rohmat adalah sebuah hadis dari Rasulullah SAW untuk umat islam. Kunci pokok dari sebuah masalah adalah sebuah penyelesaian dari masalah itu sendiri. Berbeda namun satu jua. Umat islam memeng membutuhkan hal itu untuk penyelasain problem solving. Selama jalan yang dipakai adalah benar sesuai dengan syariat agama dan hokum Negara adalah tidak ada masalah. Begitu juga dengan maraknya beberapa masalah yang terjadi di negeri ini. Dari beberapa  kasus agama yang masih cekcok dengan halal dan haram. Tentang furuiyah atau cabang dari agama islam yang masih kental di perdebatkan. Konsep islam moderat adalah suatu sikap yang dipakai mengatasi perbedaan tersebut. Konsep islam moderat mengajak orang berislam sesuai hokum Allah SWT sunah nabi serta memahami islam secara kontekstual. Artikel ini akan sedikit mengupas mngenai hal itu.

Kata Kunci:

Berislam ala Indonesia, perbedaan pandangan menegenai islam moderat, dan hokum sunatullah.

 

A.    pendahuluan

Praktek islam moderat itu sebenarnya sudah ada pada zaman nabi SAW. Dimana Nabi dikenal dengan sopan santun akhlaq juga tenggang rasanya yang tinggi, banyak cerita yang mengenai Nabi mempunyai sifat tenggang rasa yang tinggi seperti ketika nabi SAW berdiri ketika melihat jenazah orang kafir yang hendak dimakamkan. [1]Pernah lagi Nabi Hal ihwal cerita nabi tentang modratnya nabi ketika menjadi pemimpin di kota madinah menghormati orang selain beragama islam bisa menjamin hak hak social ataupun ritualnya. Dan masih banyak lagi cerita mengenai tentang hal itu. Lah ? gimana praktek islam di Indonesia yang terjadi, seperti halnya walisongo yang menyebarkan islam di pelosok tanah jawa dengan pendekatan kurtural atau budaya. Seperti halnya sunan kalijaga pendekatannya dengan gaya wayang nya yang terkenal. Dan beberapa tembang khasnya yang di sukai oleh rakyat jawa. Sifat toleran tidak memaksa dalam beragama adalah contoh moderat dalam beragama. Walisongo juga yang mengsukseskan pentebaran islam ditanah jawa ini. Berkatnya islam bisa masuk di tanah jawa, padahal cultural dan spiritual jawa yang begitu kuat hindu budha   Namun bisa diubah menjadi islam sesuai konsep agama islam itu sendiri. Hal itu juga  bisa dibuktikan dengan beberapa rumah ibadah yang berada yang berdempetan. Konsep islam moderat ini sebenarnya cocok bagi bangsa Indonesia karena sesuai konsep dasar Negara kita Indonesia.

B.     Ada apa islam di Indonesia ?

        Di bagian atas beberapa sudah dijelaskan mengenai islam moderat di Indonesia. Islam moderat di Indonesia bermula dari keramahan ajaran islam itu sendiri di dalam penyampaian atau pendakwahannya. Di dalam pembahasan ini islam di Indonesia disampaikan dengan asas cinta. Bukan kebencian terbukti dengan adanya islam diterima secara tangan terbuka oleh beberapa kalangan umat beragana di Indonesia yang masih kental dengan aspek ritualnya.islam yang menjadi fokusnya adalah aspek moralitas. Keramahan  kedamiaan, toleransi adalah cirinya islam di Indonesia. Orang Indonesia  seperti suku jawa salah satu buktinya apa yang menjadi pokok pembahasan walisongo berdakwah. Walisongo adalah orang yang menyebarkan islam di tanah jawa dengan pendekatan cultural. Walisongo adalah insinyur penyebaran islam di tanah jawa.yang sukses menyebarkan islam di tanah Jawa.

        Walisongo masuk pada abad xv- xv1 yang mapu memadukan asas spiritual juga asas cultural dalam mendakwahkakn agama islam di Indonesia. Walisongo adalah the king of religion in the java  di Indonesia oleh karenanya islam mendapat simpatik di hati warga jawa.karena walisongo bisa mendakwahakan islam secara dalam tanpa memicu konflik anatara sukku atau ras di Indonesia. Indonesia adalah sebuah Negara yang  dahulunya adalah kerajaan, dimana sifat kerajaan adalah basis egoismenya lebih tinggi.juga Indonesia dikenal dengan adat keagamaan yang begitu tinggi. Rakyat Indonesia sebelum merdeka pun dikenal dengan bebrapa tinggkatan. Ada tingktan bangsawan juga rakyat biasa Hal ini yang menjadikan walisonggo mencari problem solving atau pemecahan masalah. Walisongo berhasil menjembatani hal ini menegenai hal itu, beliau bisa mengarkrutrasi nilai budaya juga spritualitas berasakan alquran dan hadis. Seperti halnya ritaual ritaual slametan adat jawa yang sudah mengakar di hati rakyat jawa. Sesajen, persembahan yang semuanya musyrik bisa diubah dengan gampangnya menjadi ritual islami.  Walisongo juga paham mengenai kehidupan islam yang terpenting adalah esensi yang paling utama. Pengamalan nilai-nilai islam itu  sendiri berbasis pada aspek kehidupan sehari hari.

Hukum sunatullah

        “Tidak ada satu pun agama yang tidak berangkat dari sebuah respon sosial. Semua bertolak dan bergumul dari, untuk, dan dengannya. Ketika agama yang merupkan titah suci Tuhan berdialektika dengan relitas sosial, berarti ia masuk pada kubangan sejarah, atau menyejarah. Sejarah, ruang, dan waktu adalah penguji kebenaran serta kekokohan eksistensi agama. Sebagai penguji, sejarah tentu memiliki seperangkat bahan ujian. Bahan itu adalah unsur-unsur budaya setempat, fenomena dan budaya baru, serta rasionalitas.”[2]

        Pemahaman islam harus dengan dasar intelektual. Tanpa adanya pengetahuan pastilah cacat dalam memhami islam. Islam itu sendiri adalah agama yang sifatnya universal. Seperti halnya alquran  didalam memberi pengetahuan pada umat manusia itu sejalan dengan kemajuan zaman. Begitu pun dengan islam  moderat.  Islam moderat  ini  adalah layaknynya sebuah konsep tentang pengetahuan di dalam memahami islam itu sendiri. Islam yang baik adalah yang menghargai perbedaan anatara satu dengnan yang lainnya. Pemahaman yang berbeda namun tetap satu tujuan adalah kata kuncinya.

Kesimpulan

        Islam moderat adalah islam washotoniyah islam tidak kanan ataupun kiri. Islam yang seimbang sesuai dengan tuntutan zaman, islam moderat adalah islam pemahamnnya sesuai dengnan alquran hadis. Islam moderat adalah islam yang menghargai toleransi, keramahan, asas tolong menolong. Dalam Qur’an adalah kalimat ummatu washato (umat yang moderat). Islam moderat ini hanya sebuah konsep islami yang sesuai dengan kaidah islam Alquran dan Hadis. Islam ini sejalan juga dengan beberapa aliran yang washotiniyah lainnya seperti Nahdlatul Ulama dan beberapa aliran islam lainnya. Semoga kita bisa memhami lebih lanjut mengenai islam washotiyah ini dan bisa menghargai perbedaan yang terjadi disekeliling kehidupan kita. 


DAFTAR PUSTAKA 

https://journal.uny.ac.id/index.php/mozaik/article/view/4338/3767 ( pada 10/26/2020 )

muad . sejarah kehidupan nabi SAW. Bandung .2020

Quraisy shihab . islam moderat . Jakarta

Said Agiel Siradj, “Tradisi dan Reformasi Keagamaan”, Republika, 2 Juni

https://kumparan.com/syahirul-alim1526287359707/memahami-islam-moderat-1549606728189779905 ( pada 10/26/2020 )



[2] Said Agiel Siradj, “Tradisi dan Reformasi Keagamaan”, Republika, 2 Juni

 

Kamis, 03 Oktober 2019

Pemuda dan Perjuangan (Arifah Ulfah Zuhairoh)

Pemuda dan Perjuangan
(Arifah Ulfah Zuhairoh)

Tujuh Puluh Empat (74) tahun yang lalu, secarik kertas bernama teks proklamasi dibaca sebagai pengubah status terjajah menjadi merdeka. Hanya satu lembar kertas dengan kalimat-kalimat sederhana namun luar biasa pengaruhnya. Setelah berabad-abad berada di bawah cengkeraman bangsa asing, akhirnya sampai juga pembebasan atas mereka. Segala kebahagiaan itu tak akan bisa diraih tanpa adanya perjuangan. Perjuangan mewujudkan kemerdekaan. Tak hanya bambu runcing tapi juga otak-otak cerdas berfikir dalam meja diplomasi. Berbagai elemen masyarakat ikut andil demi sebuah bangsa bernama Indonesia.

Sebuah kesuksesan tak akan muncul tanpa adanya proses. Setiap proses tak akan berbuah sukses jika tak ada perjuangan di dalamnya. Seperti halnya kemerdekaan Indonesia, tak akan pernah diraih tanpa adanya perjuangan.

Perjuangan menurut KBBI adalah usaha yang penuh dengan kesukaran. Artinya, perjuangan  merupakan sebuah cara atau jalan untuk memperoleh sesuatu yang diinginkan dimana jalan tersebut dipenuhi dengan hal-hal yang sulit. Tak ada perjuangan yang mudah untuk dilalui.
Kemudian muncul pertanyaan, apakah perjuangan itu dibutuhkan? Tentu, perjuangan pasti dibutuhkan dan sangat dibutuhkan. Bukankah setiap manusia memiliki cita-cita? Dan bagaimana mereka meraih cita-cita jika mereka tidak melakukan perjuangan? Cita-cita bukan hanya sekedar angan-angan kosong yang hanya hadir dalam bayang-bayang. Cita-cita tak hanya untuk diimpikan tapi juga diperjuangkan. Keberhasilan meraih cita-cita adalah kebahagiaan besar bagi manusia.

Berbicara mengenai cita-cita, Indonesia juga memiliki cita-cita. Selama masa penjajahan, bangsa ini memiliki satu cita-cita utama yaitu meraih kemerdekaan. Cita-cita tersebut tak hanya didiamkan begitu saja,  tak hanya hidup dalam angan-angan tapi juga diperjuangkan.

Perjuangan dengan mengangkat senjata maupun perjuangan melalui meja politik. Sama sekali bukanlah hal yang mudah. Harta dan jiwa mereka rela korbankan. Kehilangan nyawa bukanlah masalah, yang terpenting bagi mereka adalah terwujudnya cita-cita bangsa. Merdeka.
Lantas, siapa yang berjuang? Yang berjuang adalah mereka yang memiliki nasib yang sama dan memiliki tujuan yang sama. Hidup lama dalam penderitaan tidak membuat mereka hilang tujuan. Justru itulah, penderitaan memperkuat tujuan. Memang, setiap elemen rakyat ikut mengambil andil tapi yang paling berpengaruh adalah perjuangan yang dilakukan oleh para pemuda. Perintis pergerakan nasional adalah pemuda. Pelaku utama momen Kebangkitan Nasional adalah pemuda.

Pelopor pengakuan satu bangsa, satu tanah air, satu bahasa adalah pemuda. Pembawa perubahan pada suatu bangsa adalah pemuda.
Siapa itu pemuda dan mengapa harus pemuda?
Menurut Aziz Syamsudin secara sosial, definisi pemuda adalah generasi antara 20 sampai 40 tahun. Referensi lain mengatakan bahwa pemuda adalah generasi berusia antara 18 tahun hingga 35 tahun. Sementara dalam kajian ilmu sosial, puncak kematangan peran publik seseorang berkisar antara usia 40-60 tahun. Usia muda biasanya memiliki semangat yang menggebu-gebu hingga terkadang melakukan sesuatu tanpa adanya perhitungan. Bisa dikatakan bahwa usia muda adalah usia paling produktf. Mereka didukung dengan fisik yang kuat sehingga produktivitasnyapun baik.

Namun, konteks pemuda tidak hanya diukur dari usianya. Istilah pemuda lebih sering dikaitkan dengan apa yang telah mereka lakukan. Pemuda dikenali dari bagaimana mereka berpikir dan bagaimana mereka bertindak. Kritis adalah gaya berpikir kaum muda. Mereka biasanya tidak mudah patuh pada suatu aturan. Jiwanya sensitif terhadap sosial. Mereka yang meski telah berusia sekitar 25 tahun, tapi hanya diam, tidak pernah melakukan aksi dan  masih ketergantungan pada orang lain, maka “kepemudaannya” perlu dipertanyakan.
Sejarah mencatat, partisipasi pemuda dalam perjuangan sangat besar. Tak hanya di Indonesia, tapi di negara lain pun sama. Dalam setiap peristiwa penting suatu bangsa, pemuda selalu memiliki peranan yang sangat berarti. Pemuda adalah sebagai motor penggerak suatu bangsa.

Banyak yang mengatakan bahwa pemuda adalah agent of change, agen perubahan. Pemuda adalah pelopor perubahan, pelopor pergerakan. Sebut saja, Budi Utomo dan Sumpah Pemuda, Rengasdengklok keduanya dipelopori oleh kaum muda. Perjuangan Bangsa Indonesia yang semula bersifat kedaerahan, bisa dinasionalkan oleh kaum muda. Mereka sadar, perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah tidak bisa dikelompokkan berdassarkan daerah,etnis, agama dan lainnya. Kelompok-kelompok tersebut harus disatukan agar cita-cita bangsa bisa terwujud.

Usia muda adalah usia yang strategis, usia produktif. Ditunjang dengan fisik yang kuat dan pemikiran yang telah matang, pemuda layak untuk menjadi harapan bangsa. Kritis dan kepekaan sosialnya sangat dibutuhkan. Pemuda yang cerdas serta berani adalah pemuda yang sebenarnya. Dalam hal ini, bisa dikatakan bahwa pemuda yang diharapakan adalah mereka para mahasiswa. Mahasiswa memiliki cukup pendidikan dan pengetahuan yang mendorongnya berpikir kritis.

Perjuangan pemuda masa kini
Masa penjajahan telah berlalu, Indonesia telah merdeka. Tak perlu lagi mengangkat senjata, tak perlu lagi berdiplomasi kepada bangsa-bangsa penjajah. Lantas, apakah perjuangan pemuda berhenti begitu saja? Tentu saja tidak. Kepemimpinan Soeharto yang dinilai tidak sesuai dengan hati nurani rakyat adalah contoh real bahwa setelah merdeka pemuda tidak berhenti berjuang. Rakyat yang kelaparan, hidup dalam derita, keadaan negara yang kacau, membuat pemuda terusik. Ketika mulut rakyat dibungkam, para pemuda berani berteriak menyeruakan aspirasi rakyat. Reformasi, mereka menyebutnya. Sebuah perubahan yang diinginkan seluruh rakyat bisa terealisasikan oleh para pemuda.
Kemudian, apa yang dilakukan oleh kaum muda masa kini? Masihkah mereka kritis, masihkah mereka berani, masihkah mereka berjuang? Indonesia masa lalu hingga Indonesia masa kini masih membutuhkan peran kaum muda.

Soekarno pernah mengatakan bahwa perjuangannya lebih mudah karena berjuang melawan bangsa lain sedangkan perjuangan generasi masa kini lebih sulit karena mereka berjuang melawan bangsanya sendiri. Pemuda masa kini harus lebih peka terhadap keadaan bangsanya.

Pemuda khususnya mahasiswa masa kini cenderung acuh terhadap keadaan sosial. Mereka sibuk dengan konsumerisme dan hedonisme. Kenakalan remaja, narkotika telah meracuni mereka. Mereka lebih suka bersosial media di dunia maya dari pada membaca buku dan mengamati keadaan bangsa. Krisis moral dan rasa malas belajar semakin mewabah. Ketika semua orang mengharapkan peran pemuda, kini entah dimana mereka.

Seperti pernah dikatakan Taufiq Ismail dalam puisinya, Takut 66, Takut 98
Mahasiswa takut pada dosen
Dosen takut pada dekan
Dekan takut pada rektor
Rektor takut pada menteri
Menteri takut pada presiden
Presiden takut pada mahasiswa
Jelas di dalam puisi tersebut, peran pemuda terkhusus mahasiswa bisa menggeser peran seorang presiden. Yang dibutuhkan Indonesia bukan pemuda tak berpendidikan, pemuda pengangguran, ataupun pemuda nakal. Indonesia butuh pemuda intelek, pemuda yang peka social, pemuda yang dengan tulus hati mau berjuang untuk bangsanya. Mahasiswa sebagai elemen utama pemuda seharusnya bisa memberi sumbangsih besar terhadap perubahan.

Para pemuda, para mahasiswa, Indonesia menunggu kalian beraksi. Indonesia menunggu kalian melakukan perubahan lagi. 71 tahun merdeka, namun belum ada kemajuan, apakah kalian masih nyaman dengan foya-foya kalian? Apakah kalian apakah kalian belum juga terusik untuk bergerak? Mari kita fikirkan bersama.

Baca Ini Ketika Kamu Merasa Lemah (Arifah Ulfah Zuhairoh)

Baca Ini Ketika Kamu Merasa Lemah
(Arifah Ulfah Zuhairoh)

Kamu kuat,
lebih dari apa yang kamu pikirkan

Kamu kuat,
lebih dari apa yang kamu pikirkan.
Hanya saja terkadang kamu mengabaikan itu, terkadang kamu enggan menyadari hal itu, terkadang kamu tak mau percaya itu.

Kamu kuat, lebih dari apa yang kamu pikirkan.
Hanya saja kamu terlalu peduli pada kekuranganmu yang padahal itu hanya secuil dari dirimu.

Kamu terlalu peduli terhadap yang meremehkanmu, padahal mereka hanya iri padamu. Kamu terlalu peduli pada kegagalanmu padahal itulah proses menuju impianmu.

Kamu kuat, lebih dari apa yang kamu pikirkan. Jika kamu masih saja meragukan itu, bagaimana dengan orang lain?
Kamu kuat, percayalah!

Kader PMII sebagai Penggerak Utama dalam Era Millenial(Arifah Ulfah Zuhairoh)


Dewasa ini, topik mengenai “Era Milenial” sedang ramai dibicarakan di hampir setiap kesempatan dan kalangan. Di bidang ekonomi, pendidikan, politik, sosial, hukum dan budaya tak lepas dari istilah tersebut. Konteks di dalamnya bisa berbeda-beda tergantung dari mana perspektif kita memandang. Secara garis besarnya, era milenial adalah istilah yang mewakili kondisi dunia saat ini.
Modernisasi telah mengubah segalanya. Semua menjadi lebih mudah . Teknologi dan informasi berkembang begitu cepat. Dunia seakan menjadi begitu sempit dan membuat informasi dapat diakses kapan saja. Manusia seakan menjadi begitu lemah hingga banyak pekerjaaan yang akhirnya dikerjakan oleh robot.  Satu yang tak ketinggalan adalah media; media menjadi hidup bahkan lebih hidup dari pada kehidupan itu sendiri. Inilah era millennial.

Dengan semua modernisasi dan globalisasi yang ada, dengan semua kemudahannya, dengan teknologi hebatnya juga pasti akan memunculkan dampak negatif. Derasnya arus media perlu diperhatikan. Begitu juga dengan teknologinya. Entah dari mana, arus tersebut akan menggiring kita yang bahkan kita tak tahu kemana. Ini permasalahannya, seringkali kita yang menjadi obyek bukan subyek.

Sebagai kader pergerakan, kita jangan sampai tersesat dalam era millennial. PMII akan masih relevan untuk mewadahi kita bergumul dengan kondisi sekarang ini. Bahwa segala sesuatu yang memudahkan kita, dengan perlahan akan membuat kita manja dan semakin malas untuk tetap bergerak. Modernisasi yang membawa banyak kemudahan, bisa jadi juga membawa banyak jebakan. Jika sedikit saja kita lengah, maka akan ada musuh yang masuk menyelinap. Perlu kita ketahui pula bahwa musuh saat ini bukan yang menghancurkan dengan senjata api namun dengan penghancuran persatuan melalui adu domba.

Penerapan hablum minallah, hablum minnaas dan hablumminal alam dalam era millenial adalah sesuatu yang sangat tepat. Tiga landasan ini akan membuat kita tidak mudah goyah dengan kondisi dan keadaan sekarang. Tiga landasan ini pula yang akan membantu kita untuk konsekuen berada dalam pergerakan. Ketiganya merupakan nilai dasar pergerakan (NDP) PMII dengan disempurnakan dengan tauhid, mengesakan Allah. Inilah yang menjadi dasar kita dalam bergerak.
Jika kita cermati kembali, ketiga landasan tersebut semakin terkikis dan semakin diabaikan oleh manusia-manusia millennial. Nafsu mereka terhadap dunia semakin besar. Terlebih, kemajuan teknologi juga semakin membuka pintu menuju kemaksiatan. Manusia bekerja keras hanya untuk dapat melampiaskan nafsu hedonisnya. Tempat-tempat ibadah semakin sepi. Religius hanya ekspektasi.
Parahnya, kini marak penyebarkan isu-isu agama untuk kepentingan politik suatu golongan. Agama dijadikan alat untuk merebut kekuasaan. Agama tak lagi dijadikan landasan dalam melangkah.
Hubungan manusia dengan Tuhannya kini semakin jauh. Ketika mereka sedang menghadapi masalah, mereka memilih mengadu pada social media bukan kepada Allah. Ada pula yang melampiaskannya dengan narkoba dan miras sebagai pelarian. Padahal ada Allah sebagai tempat kita pulang.
Kader PMII sudah seharusnya bergerak untuk menyadarkan mereka bahwa perlu adanya perbaikan hubungan dengan Allah. Dalam melakukan berbagai hal, agama harus dijadikan landasan utama. Dalam hal ini, kita sebagai kader PMII harus berlandaskan Ahlu Sunnah Wal Jamaah dan menjaganya. Mengingat dewasa ini juga banyak aliran-aliran yang mengaku Aswaja namun perilakunya tidak mencerminkan Aswaja. Ghiroh menjaga Aswaja harus senantiasa diperbarui demi Islam nusantara yang damai.

Sekarang kita coba lihat mengenai hablum minannas para manusia millennial. Bukankah semakin bobrok juga? Egois dan apatis. Mencari manusia yang benar-benar peduli terhadap manusia lain menjadi hal yang sulit. Tradisi gotong royong yang diwariskan nenek moyang kini seakan diganti menjadi tradisi individual. Sifat keakuan semakin besar. Dimana-mana yang terjadi adalah adu domba, saling menghujat, saling menyalahkan dan selalu merasa yang paling benar.
Manusia sekarang dipenuhi dengan kepentingan masing-masing. Dalam pergaulan, yang terjadi adalah kedekatan kepentingan bukan kedekatan emosional. Kejahatan-kejahatan kemanusiaan semakin ramai diberitakan. Terlebih semakin ramainya dunia maya sebagai lahan saling menjatuhkan. Manusia seakan lupa bahwa mereka adalah makhluk sosial yang sepantasnya saling membutuhkan bukan saling adu kepentingan.

Dalam hal ini, peran mahasiswa dibutuhkan. Kita harus bisa menjadi penggerak di masyarakat untuk menekan sifat individual. Sifat kepedulian harus dibangun. Jiwa sosial harus senantiasa dipelihara. Bukankah khoirunnas anfa’uhum linnaas? Saatnya kita berusaha menjadi bermanfaat untuk orang lain. Mungkin akan sulit untuk merubah masyarakat yang sudah terlanjur individual, namun setidaknya kita harus memulainya dari diri sendiri.

Dalam kehidupan sebagai kholifah, manusia membawa amanat besar yaitu sebagai manajer untuk mengelola kehidupan di muka bumi. Dalam hal ini termasuk dalam mengelola alam. Bukankah bencana-bencana yang terjadi adalah akibat dari ulah manusia? Hutan dijadikan pabrik-pabrik, persawahan dijadikan perumahan, sungai dijadikan tempat sampah, jika seperti itu bagaimana bumi akan tetap menjadi tempat yang nyaman?

Rumah manusia di dunia adalah bumi, namun anehnya mereka cenderung merusak rumah mereka sendiri bukan merawatnya. Coba kita lihat sekeliling lingkungan kita. Masih adakah lahan kosong? Ya, sudah jarang kita temukan. Permukaan bumi sudah ramai oleh beton-beton keserakahan manusia. Setidaknya, ada resapan air agar banjir tidak sering menghampiri. Di daerah dataran tinggi, tanah longsor sering terjadi. Ini juga akibat dari hutan yang sering dieksploitasi. Sungai, laut, seperti tempat sampah. Limbah-limbah pabrik seenaknya dibuang begitu saja.

Hablum minal alam di era millennial sudah semakin renggang. Kita terlalu sibuk menikmati apa yang diberikan alam hingga lupa bahwa kita punya kewajiban untuk menjaganya. Mulailah dengan melakukan hal-hal kecil. Misalnya, membuang sampah pada tempatnya atau menyirami tanaman. Mahasiswa khususnya kader PMII memiliki peran penting disini. Kita dituntut menjadi penggerak dalam melestarikan alam. Akan sangat lucu jika kita malah lebih suka merusak rumah kita sendiri.
Ada sebuah hadist yang mengatakan :        الخَيْرُ كَثِيْرٌوَ قَلِيْلٌ فَاعِلُهُ kebaikan itu banyak namun sedikit yang melakukannya. Sebagai kader pergerakan tetaplah kita sadar bahwa menjaga hablum minallah, hablum minannaas, dan hablum minal alam adalah hal yang penting. Memang semakin sedikit manusia yang melakukan kebaikan, namun perubahan harus diwujudkan. Lalu, bagaimana kita bisa mewujudkan perubahan? Dengan pergerakan. ✊

Pengelolaan Opini dan Gerakan Massa

Pengelolaan Opini dan Gerakan Massa

  Secara garis besar, opini merupakan suatu pendapat, gagasan mengenai suatu permasalahan yang timbul dalam berbagai aspek kehidupan. Opini bersifat relatif.Kebenarannya belum dapat dipastikan. Namun demikian, jika opini telah memasyarakat dan menjadi milik publik maka opini akan menjadi suatu paradigma yang akan sulit untuk dirubah.

Jika paradigma tersebut adalah sesuatu yang baik, pasti tidak akan menimbulkan masalah. Namun sebaliknya, jika paradigma tersebut adalah sesuatu yang buruk maka, akan muncul permasalahan yang biasanya sulit untuk diatasi karena suatu paradigma sejatinya sulit untuk transisi ke paradigma yang lain.

Pentingnya suatu opini dalam mempengaruhi masyarakat menjadikan penting juga dalam pengelolaannya. Opini yang bisa dikelola dengan baik akan mudah diterima dalam masyarakat yang pada akhirnya bisa menjadi milik publik. Pengelolaaan opini menjadi sebuah gerakan massa adalah suatu hal yang dibutuhkan khususnya dalam mempertahankan ideologi dan tujuan sebuah organisasi.

PMII sebagai sebuah organisasi yang mengemban misi keagamaan dan kebangsaan yaitu menjaga amaliyah ahlussunah wal jamaah yang nahdliyah dan menjaga keutuhan NKRI sudah seharusnya untuk mengelola opini guna menggerakan massa. Terlebih melihat keadaan media sekarang yang penuh dengan hoax. Selain keadaan media, keadaan Islam masa kini juga perlahan telah terpengaruh oleh ideologi yang semakin radikal. Ada satu lagi, yaitu keutuhan NKRI yang kini mulai dikhawatirkan.

Media sosial pada zaman modern seperti sekarang ini memiliki peran yang besar dalam penggiringan opini guna menggerakkan massa. Bukankah kelompok-kelompok radikal di Indonesia telah menggunakan media sosial sebagai alat penggiringan opini mereka? Ya, mereka telah pandai menggerakkan massa melalui media sosial. Hal inilah yang belum banyak dilakukan oleh PMII. Penggerakan massa yang dilakukan PMII belum merambah ke media sosial. Padahal inilah yang terpenting.

Sebagai organisasi mahasiswa yang ingin tetep menjaga aswaja dan NKRI, PMII harus segera mengambil langkah real dalam pengelolaan opini. Jangan sampai opini-opini yang digiringkan oleh kelompok-kelompok radikal menjadi sebuah paradigma yang akan sulit dicabut dari masyarakat. Perlu diperkuat opini-opini khususnya tentang aswaja dan NKRI agar bisa menjadi milik publik. Jika pengelolaan opini bisa berhasil dan mewujudkan gerakan massa, maka hal itu akan selaras dengan tujuan dan misi PMII. Jadi, tercapai atau tidaknya tujuan serta misi PMII salah satunya bergantung pada bagaimana PMII sanggup mengelola opini untuk menggerakkan massa.

(Arifah Ulfah Zuhairah)